10.23.2006,04:40
Devil Inside Me
Aku baru tersadar. Apa yang orang-orang bilang "setan diiket" di bulan ini tidak berlaku bagi aku. Seperti omongan seorang ustadz yang aku dengar dari TV

Seorang santri bertanya :
"Stadz, kenapa sekarang, udah jarang setan menyamar jadi manusia untuk mencederakan ummat?"


Lalu Ustadznya pun menjawab :
"Karena jumlah Manusia yang jadi Setan udah lebih banyak. Jadi mereka nggak perlu repot-repot lagi."


Hatiku disadarkan. Ternyata aku juga sudah menjadi setan bagi diriku sendiri. Tapi namanya juga setan, abis itu tetep aja nggak solat. Dasar aku bego.

Sebenernya aku baru aja sadar dan menertawai diri sendiri. Ngapain sih aku bikin novel, yang beberapa bab-nya nyindir diri sendiri? Biasanya kan orang nyindir orang, sekarang aku malah nyindir diri sendiri. Mungkin tujuannya untuk menyadarkan. Loh tapi kok ya nggak sadar-sadar juga ya?

****

Dari SELURUH post yang ada di Blog ini, aku paling benci post yang berjudul Tuhanmu Komputer. Kalau bukan karena ingat bahwa post itu dibuat selama 3 jam, aku pasti nggak segan-segan untuk menghapus tulisan itu. Kenapa?

KARENA TULISAN ITU MUNAFIK BANGET

Kalau para pembaca adalah salah satu orang yang tau kehidupan aku seperti apa, pasti para pembaca nggak akan segan untuk bilang, "Munafik lo."

Iya. Aku memang munafik. Sama seperti tokoh di Kemenangan, Muhammad Gito. Cuma ada satu hal yang membedakan kita, yaitu Kalau Gito tobat sedangkan aku malah tambah kafir.

Aku nggak ahu amalanku seperti apa. Aku nggak mengharapkan menjadi Taqwa. Aku cuma ingin..... besok aku kembali ke fitrah.

Aku ingin meminta maaf pada Allah. Aku ingkar janji. Semoga Dia mau memaafkanku dan menyucikanku kembali seperti 12 tahun lalu saat aku masih digendong oleh seorang suster dengan tubuh berlumur darah. Seperti seorang bayi yang suci.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1427h
Taqabalallahu Minna Wa Minkum. Taqaballahu, Ya Kariim.

Semoga perjuangan kita sebulan tidak sia-sia. Maafkan segala dosaku, baik dari lisanku maupun perbuatanku.
 
ditulis oleh Si Iyo > < 11 orang yang ngomentarin
10.20.2006,23:49
Teman Sejati Tak Pernah Mati


Tabblo: TEMAN SEJATI TAK PERNAH MATI

See my Tabblo>

Mau ikut ikutan W|z|z|n|U ah. Bikin tabblo. Ternyata hasilnya lumayan.
 
ditulis oleh Si Iyo > < 0 orang yang ngomentarin
10.17.2006,20:25
Muhammad Gito
Siswa SMPN 6 Bandung. 14 Tahun. Rajin. Pintar. Sopan. Religius. Tapi Munafik.

Ia ingin Berubah.

Tapi ia menemui banyak cobaan.

Ikuti kisahnya

KEMENANGAN

Sebuah Cerita. Karya serius pertama Iyo.

Don't forget to leave a comment.

C U There.
 
ditulis oleh Si Iyo > < 5 orang yang ngomentarin
10.13.2006,22:16
Buka Bersama (minus) Kebersamaan






Kamis dan Jum'at kemarin, aku mengundang, dan diundang buat bubar. Apa itu bubar? Bubar disini bukan "bubar" yang itu, tapi cuma merupakan sejenis abreviasi (singkatan -red) dari sebuah kalimat yang simpel, Buka Bersama. Yah, namanya juga bulan Ramadhan, pasti anak-anak gawul pada keluar dari sangkarnya. Selain untuk ngabuburit yang bisa berupa shopping, nonton, olahraga, dan banyak kegiatan lainnya, para manusia gaul ini juga menerima undangan untuk berbuka puasa bersama setiap harinya. Dari komunitas ini lah, itu lah, kelas ini, kelas itu, reuni ini, reuni itu, muter terus dari satu restoran ke restoran lainnya. Restoran , mulai dari yang muahallll sampe warung, pasti dipenuhi oleh sekelompok orang yang lagi haha-hihi bersama. Coba aja perhatiin fenomena ini.

Nah, pada hari Kamis tanggal 12 Oktober, Si Iyo, selaku seorang KM yang rajin, baik hati, ramah, murah senyum, dan narsis ini *muntah dulu ah* berbaik hati untuk mengundang anak-anak kelas 7ie BAGUUS~! buat bubar juga. Tempatnya udah ditentukan, yaitu di Food Junction Braga Citywalk. Kenapa disitu? Karena tempatnya sepi banget walau enak makanannya dan cozy interiornya. Range budgetnya udah ditentukan juga, antara Rp 20.000 sampai Rp 50.000

Enak kan? Udah tempatnya strategis lagi. Tinggal dateng, duduk, mesen, bayar, dan... makan! Rencana udah dipastikan, pengumuman udah ditulis, undangan udah disebarkan. Pokoknya kita semua happy banget mau bubar untuk pertama kalinya.

Sepulang sekolah, ada satu orang temen namanya Andre, mau ikut dulu ke rumah aku. Boleh deh, sambil main-main lah. Nah, jam 4-an kita berdua, diantar ayah tercinta, pergi menuju sekolah. Di perjalanan kita udah diSMSin, katanya kita ngareeeeet banget. Maklum, rumahnya jauh. Pokoknya, supaya mempersingkat cerita, kita udah nyampe di sekolah.

Dan disana nggak ada orang.....

Bingung deh kita! Baru ternyata setelah diteleponin, ternyata mereka udah ngabur ke BCW duluan. Yowisss, kita pun menyusul.. Sampai di sana, aku ketemu Fachrie, temenku. Jadi kita udah ber3. And suddenly, i'm feeling so bad. Kata Tora sih, "Perasaan gue nggak enak nih!"

Lalu muncul Dwiky, Fitri, Mitha, dan Finnanyoo. Mereka marah-marah karena aku telat dateng. Setelah minta maaf berkali-kali, akhirnya kita mengambil tempat di sebuah sofa panjang yang Cowzeeeh (baca: cozy) abis. Kita duduk, ngobrol, sambil nunggu yang lain dateng.

TAPI ABIS ITU, NGGAK ADA LAGI ORANG LAIN YANG DATENG!


WTF! Sampe-sampe kita semua terpaksa harus nelepon semua orang. Jawabannya bervariasi. Ada yang nggak ada pengantar dan penjemput (muna), jadwalnya bentrok (muna juga), ketiduran, bahkan nggak diizinin ortu. Ya sudahlah, walau perasaan hati ini ancur bangeeeeet!

"Adik-adik, sekarang bedah bagian bawah dadanya ya! Sudah ketemu hatinya? Baguus! Sekarang ambil hatinya masing-masing ya adek-adek. Kita remukkan sampai ancur. Iris-iris, cincang dadu ya. Tambahkan garam sama merica. Lalu panaskan minyak. Udah panas? Masukkan hatinya. Kalau udah mateng, sajikan bersama sambel terasi ya. Jangan lupa, minumnya Teh B**** S****."

Bgitulah perasaan hatiku. Ancur bow! Masa buka bersama kelas cuma ber-7? Tapi bedug maghrib sudah berbunyi. Bukan waktu yang tepat untuk sakit hati pada orang-orang kayak gitu. Untuk menghibur diri, dipesanlah bento teriyaki beserta es cincau. Kalau temen-temen yang lain, pada makan steak semua. Ternyata, acaranya juga nggak garing-garing amat kok. Malah bagian paling keren, kan abis itu kan kita main dulu ke sejenis Timezone gitu, disana ada mesin Percussion Master. Otomatis kita semua main dulu. Rame banget deh!

Nih ada skrinsyutnya :


Sudahlah, walau cuma ber-7, toh, pada akhirnya kita semua pulang dengan gembira. Cuma ada satu yang kurang sebenernya, yaitu kebersamaan. Iya, walaupun hari Jum'atnya kita ber7 ngejutekin anak-anak sekelas, teteeep aja, mereka bermuka badak. Yah sudahlah, namanya juga bulan puasa, kan musti sabar!

Pada hari Jum'at sore, giliran aku yang diundang untuk bubar sama Teh Rianthi, katanya sih bubar-nya anak Pema. Asalnya aku udah setuju, udah ngabsen pulak. Tapi pas pulang dulu sebentar dari sekolah, malah ketiduran di rumah! Ya sudah, gagal.

Begitulah, Kamisnya aku dikecewakan, Jum'atnya aku mengecewakan. Bagaimana ini?

edit : baru diingetin sama Hyoutan, bahwa bubar itu singkatan buka bareng. sedangkan buka bersama itu bukber. bodoooooh~!
 
ditulis oleh Si Iyo > < 10 orang yang ngomentarin
10.10.2006,05:30
Such a Complicated Life!
Begitulah, dalam kehidupanku yang baru berjalan 12 tahun setengah ini, memang banyak hal rumit yang nggak bisa dipaparkan cuma lewat kata-kata. Aku terharu saat baca sebuah komen di perspektif online. Dikirim oleh Ary H pada tanggal 3 Oktober 2006 Jam 22:59:08 WIB
anyway, if i were still in his age, i would prefer not knowing anything happenned in the world. main galasin, tak benteng, gundu, dampu gunung atau tak kadal ajalah. yang lebih berkeringat. new things (information) are popping up like a machine gun these days and sometimes you're no longer able to contain them in your head, your heart. so, having a tranquil sleeping in bed all day and not knowing those new things sounds better to me. yah, tapi si Iyo itu tampak bahagia, meski tatapan kosongnya menyiratkan sesuatu yang luar biasa.
Ya Allah! Akhirnya ada juga yang bisa menggambarkan perasaanku dengan begitu jelas! Walau pak Ary H belum pernah ketemu aku, tapi kenapa beliau bisa bener-bener ngerti?

Jadi gini, terkadang sakit banget, saat kita bisa dan terbiasa mengetahui segala sesuatu yang ada dibalik jendela rumah kita. Mengetahui banyak orang miskin diluar sana. Mengetahui masih ada perang saudara. Mengetahui masih ada bencana. Kalau aja aku masih hidup biasa, normal, aku nggak akan kepikiran tentang lumpur panas, atau soal politik yang menurut guru Sains aku Jahat dan Licik. Aku nggak usah tahu kalau di satu sisi ibukota kita, terdapat high-class lifestyle, apartemen seharga 8 miliar, sementara di sisi lainnya orang-orang menggelandang minta dikasih recehan. Sakit rasanya mengetahui aku bisa baca berita cuma dengan nge-klik news reader sementara anak lain seumurku di pelosok daerah masih belum bisa baca. Sakit rasanya mengetahui bahwa aku punya mimpi yang tinggi, mau pergi ke luar negeri, sementara masih banyak orang yang punya mimpi cuma untuk bisa makan.

Memang, aku benci berita. Berita kebanyakan buruk. Apalagi di Indonesia. Mungkin negara kita terlalu besar, sampai berita muncul dari seluruh pelosok daerah. Aceh gempa, merembet ke Jogja, Pangandaran, muncul lumpur panas, gunung merapi, terus menerus seperti sebuah mata rantai. Masalah kriminal Bandung selesai, muncul di Jakarta, dan selalu begitu. Selalu begitu selama ini.

DAN AKU INGIN MENGHENTIKAN RUTINITAS GILA INI!

F**k with them. I don't care. Ingin rasanya aku bangun pagi dengan gembira, tanpa perasaan takut. Nonton Spongebob Squarepants, pergi ke sekolah, ngobrol sama temen-temen tentang grup musik apa yang lagi jadi 'trend', belajar, pulang, main sepakbola, nonton TV, mendengarkan radio, menggambar atau menulis, TANPA harus tahu "Ada apa sih di hari ini?" dan pergi tidur dengan nyenyak tanpa harus kepikiran APA yang terjadi hari ini, dan APA yang akan tejadi esok hari. Nggak usah ada koran, nggak usah ada TEMPO, nggak usah ada detikcom. Cukup channel Nickelodeon aja. Sama ESPN. Aku ingin berhenti untuk tahu. Dan aku ingin berusaha untuk berhenti bertanya sama orang. Aku ingin hidup jadi anak yang kuper, nggak usah jadi anak yang TerGaul dan TerHighTech seperti kata angket kelas.

Tapi aku nggak bisa.

Aku udah terlanjur basah, menjadi pengamat berita, jadi Mister-Serba-Tahu, jadi orang yang "Never stop asking Why"

Apa yang bisa aku lakukan sekarang? Aku akan berusaha, dengan sekuat tenaga, menikmati hidupku yang rumit ini. Sepelik apapun keadaannya, akan berusaha aku jalani. Toh, dengan semua ini aku bisa bahagia walaupun dengan cara yang berbeda dibanding mereka yang nggak pernah tahu apa yang baru di Dunia ini. Mengapa orang dilahirkan berbeda? Mengapa ada orang kaya? Mengapa ada orang miskin? Karena mereka ditakdirkan untuk menjalani hidup mereka di jalan mereka sendiri. Dan mereka mendapat ujian yang setimpal pula. Bagi seorang kaya, kehilangan 10.000 mungkin nggak ada artinya. Tapi bagi orang miskin, kehilangan 10.00 bisa aja berarti nggak sahur dan buka puasa seadanya selama 2 hari. Bisa kan?

Sampai ketemu di post berikutnya.

Dengan penuh cinta,
Iyo,
yang lagi bingung.
 
ditulis oleh Si Iyo > < 12 orang yang ngomentarin
10.07.2006,20:26
Gembira Ria
Judulnya kok gitu ya? Sudahlah, yang penting nyentrik.

Jadi ceritanya hari ini Si Iyo dibagi rapot. Masih bayangan sih, walaupun bentuknya kertas. *ya iya lah!* Pokoknya, raportku ini masih berupa hasil UKBTS aja, sama 1 ulangan harian per mata pelajaran. Nah, sebenernya, aku sendiri nggak ada bayangan bakal kayak apa nilai raportku. Secara gituu, lawannya "tangguh" semua. Ada Sarah Chang, Stefanie 'Onyet', Fura, Mitha, seabreg lah. Perasaan sekelas isinya pinter semua. Gawat deh......

Saat di perjalanan menuju sekolah, aku ditanya Papi, "Yo, kira-kira aja nih, feeling kamu mengatakan kamu ranking berapa?"

Asal tau aja nih, Semenjak adanya Kurikulum KTSP, *sebenernya sih dari zaman KBK* yang namanya rangking itu secara resmi sudah ditiadakan. Karena apa? KTSP dan KBK menyorot proses, bukan hasil akhir. Jadi bukan ikan apa yang kamu tangkep, melainkan gimana cara kamu nangkep ikan. Apalagi KTSP ini, wuih, selain mata pelajaran yang nambah dan semakin berat, siswa juga dituntut harus belajar sendiri. Kalau enggak? Tewaslah dia. Maka itu, aku menghargai Larry Sanger dan Jimmy Wales karena menciptakan sebuah keajaiban bernama WIKIPEDIA. Baiklah, sebelum perjalanan OOT kita samapi ke Demak, kita balik lagi ke topik.

"5 Besar, Cuma feeling aku bilang 4." jawabku jujur.

Pertimbangannya banyak, selain karena saingan yang pinter-pinter tadi, aku ngerasa kalau aku kurang serius. Terlalu tenggelam pada blog, komputer, dll. Jadi ya sementok-mentoknya, ya segitu tadi.

Nah udah nih, aku turun dari mobil. Dengan perasaan biasa, emotionless walau deg degan, aku menuju kelas. Ternyata orang tua masih pada dikumpulin di dalam. Berarti, kita telat walau nggak telat-banget. Secara tiba-tiba ibu Juhaeti tercinta, guru olahraga sekaligus wali kelasku, keluar dari kelas dan memberondong aku dengan pertanyaan tentang spidol. Ternyata spidolnya habis pada saat yang tidak tepat. Terpaksa minjem dulu ke kelas sebelah. Oh iya, di whiteboard udah ada tulisan tentang nilai paling tinggi. Karena bosan nggak dibagi-bagi juga, aku bolak-balik kelas dan ruang PeMa. Sampai aku dipanggil masuk sama bu Juju.

"Ada apa ibu?" tanyaku deg-degan.

"Nggak, masuk sini." jawab ibu Juju.

"Mmmm, kebetulan, baik nilai campuran tertinggi dan nilai mid-semester tertinggi, dipegang oleh orang yang sama, anak ini. Ketua Kelas 7i."

Wah, ngapung yeuuh~! Eits, tapi entar dulu. Aku bukan termasuk orang yang cepat-percaya-pada-berita-yang-tidak-valid. Jadi aku tunggu bukti dulu. Malah aku bolak balik lagi ke ruang PeMa. Lalu..... Saat udah yang keberapa kalinya bulak balik, si ibu Juju menunjukkan selembar kertas tanda kevalidan. Jadi, di kertas itu ditulis nilainya anak-anak dan saudara-saudara....

AKU RANGKING 1!
w00t-w00t!

Yah walaupun cuma diukur dari jumlah nilai doang, tapi seneng banget rasanya! Akhirnya, pengorbananku, usahaku, ikhtiarku, doaku, tawakalku, ada hasilnya juga. Alhamdulillah ya Allah.

Kalau nilai ya STD lah *halah*, rata-rata 8-9 an. Tapi bangganya itu loh! Pokoknya begitulah pengalamanku hari ini. Sampai ketemu di cerita selanjutnya......
 
ditulis oleh Si Iyo > < 7 orang yang ngomentarin
10.03.2006,20:28
*speechless*
Maaf, aku bener-bener kehabisan kata-kata. Terlalu banyak berita, kejadian, dan informasi yang berkelebatan didalam otakku layaknya film. Beberapa hari ini terasa gila!

*mengheningkan cipta menjernihkan otak selama 10 detik mulai.*
*selesai*

Baiklah, sekarang aku udah punya bayangan apa yang harus aku sampaikan. Pertama, kita mulai dengan ucapan terima kasih.

1. Terima Kasih

Terima kasih buat Allah SWT, cintaku.
Terima kasih untuk Mami dan Papi, yang walaupun jarang rukun, tapi udah membantu aku menjalani 12 tahun ini dengan indah, memberi cinta yang nggak habis-habis buat aku. Mendukung aku, apapun yang terjadi.
Terima kasih untuk pak Wimar Witoelar, yang tanpa dikomando oleh siapapun, menulis tentang BLOG AKU! (tampar aku dong, ini mimpi bukan?)
Terima kasih juga buat Tubagus Andhika Nugraha, atau Gichie, yang udah memicu aku untuk mengisi blog yang asalnya kosong ini, jadi penuh sama curhatan nggak penting. xixixix.
Terima kasih untuk ratusan orang yang meluangkan waktunya buat baca-baca buku harian virtual aku yang isinya nggak bagus-bagus amat. Beneran!

"Yo, kamu nggak sakit? Ini bukan Academy Award woy! Banguuuunnnn! Jangan ngimpi mas! Kayak yang udah menang penghargaan aja!"

Oh iya, maap, kok jadi panjang lebar gini ya? Sekali lagi, terima kasih banyak, saya nggak tau mimpi apa semalam kemarin malam, sampai blog saya bisa masuk ke Perspektif Online? Whew!

Yang kedua, Klarifikasi.

2. Klarifikasi

Ada beberapa hal yang perlu aku rebonding luruskan dulu, daripada nanti berujung kepada fitnah yang kata orang lebih kejam daripada pembunuhan.

- Aku BUKAN anak diplomat

Hal ini paaaaling bikin aku geli, diplomat dari mananya? Duh, ya Allah. Aku lahir di Bandung, 4 Januari 1994, RS Borromeus, jam 7 pagi. Terlahir dari pasangan Ir. Sri Wisnubroto, seorang pengusaha biasa, dan Ir. Hj. Wieke Ratna Budiarti, seorang Ibu Rumah Tangga paling hebat sedunia. Yang jelas, kedua-duanya bukan diplomat! Orang biasa aja.

- Aku TIDAK PERNAH tinggal di luar negeri

Yang ini bikin geli, kesal, dan gondok juga. Seumur hidup aku, 12 tahun, dihabiskan ya di kota Bandung ini. Bahkan, lokasi tepatnya adalah di kampung pinggir kota, yang berlokasi 18 Km dari sekolahku dan pusat kota. Nggak percaya? Tanya aja sama orang yang kenal aku di kehidupan nyata. Bersekolah SD di sebuah sekolah murahan (SPPnya 5 ribu) ditemani oleh beberapa orang teman yang loyal, setia, tulus, tapi BORO-BORO ngerti sama IT. Baru setelah itu, aku loncat beberapa tingkat, masuk ke sekolah yang hi class, di tengah kota, penuh oleh orang-orang creme de la creme yang melek globalisasi dan teknologi.

- Aku belajar Bahasa Inggris secara OTODIDAK

Aku mungkin memiliki kemampuan Bahasa Inggris yang, yaaaa, lumayan lah. Tapi aku nggak pernah, setidaknya untuk rentang waktu yang panjang, les bahasa Inggris. Perkenalan pertamaku dengan bahasa Inggris adalah melalui komputer, internet, dan playstation. Setidaknya aku bertanya saat menemui kosakata yang nggak dimengerti. Pertanyaanku yang paling aku inget adalah :

"Papih, Bucket itu apa sih?"


Hihihi. Di kelas 3, muncullah tokoh Kak Nizar yang Kuliah Kerja di SD aku. Beliau inspiratorku dalam belajar bahasa Inggris. Masalah les bahasa, baru pas kelas 4 SD aku belajar conversation and grammar sama seorang guru privat bernama Pak Jaja *hidup pak jaja!* dan setelah belajar sama beliau, makin banyak lagi kosa kata yang aku pelajari. Tapi sayangnya, beliau sakit. Beliau memutuskan untuk resign. Dan aku menganggur lagi. Kemampuan bahasaku jadi loyo lagi. Akhirnya aku terdampar di TBI baru-baru ini. Walaupun sebenernya, aku bener-bener nggak betah sama temen-temen yang ada di sana.

Sudah, aku rasa cukup jelas. Sekarang mari berlanjut ke post berikutnya saja ya. Post ini didedikasikan spesial untuk Pak Wimar dan artikelnya tentang blog aku. Terima kasih banyak pak. Terima kasih.

Artikel yang dimaksud : Blog anak SMP bernama Iyo - Perspektif Online

 
ditulis oleh Si Iyo > < 11 orang yang ngomentarin